Kembali dalam Kasih Sayang-Nya


Dalam kelelahan yang menyelimuti tubuh dan jiwa, Aisyah duduk termenung di sudut kamarnya. Sunyi menemani, hanya suara detak jam dinding yang terdengar samar. Batinya berperang sendiri, terjebak dalam zona nyaman yang menggenggam hatinya terlalu erat. Dia merasa seperti terkurung dalam ilusi, terperangkap dalam rutinitas yang menjauhkannya dari kebaikan.

Sudah lama ia merasa rapuh. Waktu terus berlalu, menyeretnya semakin jauh dari cahaya yang pernah menerangi jalannya. Nafsu duniawi membelenggu, kesedihan menyesakkan. Di tengah gemuruh perasaan yang berkecamuk, ia menyadari bahwa hatinya mulai kehilangan arah. Perlahan-lahan, keyakinannya terkikis oleh kefuturan yang datang tanpa permisi.

"Ya Rabb, aku ingin kembali," lirihnya dalam hati.

Aisyah menghela napas panjang. Ia merindukan kedamaian yang pernah mengisi relung hatinya. Jalan ketaatan yang dahulu begitu lekat, kini terasa begitu jauh. Meski bayangan futur terus menghantuinya, ia bertekad untuk bangkit, walaupun langkahnya masih tertatih.

Di dalam keheningan malam, ia merasakan kegelisahan yang semakin menyesakkan dada. Seolah jiwanya terkurung dalam kebingungan tanpa akhir. Amarah dan kesedihan bercampur, mendominasi hatinya yang kian berantakan. Ia muak dengan dirinya sendiri, dengan semua kelalaian yang telah ia lakukan.

"Astaghfirullah," bisiknya lirih. Matanya mulai basah. Ia menyadari betapa jauhnya ia terseret dalam kelalaian. Betapa sering ia melupakan syukur yang seharusnya ia jaga. Dunia telah menipunya dengan gemerlap semu, membuatnya terlena dalam rasa takabur yang menyesakkan.

Aisyah menunduk dalam-dalam, tangannya gemetar. "Ya Allah, Ya Ghofur, yang Maha Pengampun," doanya terurai bersama air mata. "Ampuni hamba yang lalai, yang terseret dalam futur dan sering lupa bersyukur."

Sujudnya kali ini terasa berbeda. Ia menghadirkan segala penyesalan, merasakan setiap luka yang ia buat untuk dirinya sendiri. Di lubuk hatinya yang paling dalam, ia merindukan kedekatan dengan Rabb-nya. Ia ingin kembali merasakan iman yang menghangatkan, yang memberikan ketenangan di setiap langkahnya.

"Ya Allah, Pemilik hati yang penuh rahman," bisiknya dengan penuh harap, "balikkan hatiku ke jalan-Mu. Kembalikan aku ke dalam ketaatan yang menenangkan. Aku rindu, Ya Rabb... rindu pada cahaya yang pernah Kau titipkan dalam jiwaku."

Aisyah mengusap wajahnya. Malam ini, ia telah mengambil keputusan. Ia tak ingin terus terperangkap dalam kefuturan. Ia akan melangkah kembali, setapak demi setapak, mendekatkan diri kepada Rabb-nya. Dengan hati yang penuh harap, ia bangkit dari sujudnya, memulai kembali perjalanannya menuju cahaya yang hakiki.


-----------------------------------------------

🖊️🦋 asma_dzatun_nithaqaini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Allah Baik, Allah Maha Baik

Ampunan Jawaban-Mu.

Menanti Sang Buah Hati