Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2025

Ampunan Jawaban-Mu.

Gambar
Setumpuk Khilaf yg terukir, Menjadi saksi diri yg fakir, Setitik pengabdian yg sedikit, Sebagai tanda jiwa yg sakit. Keras. . .gumpalan itu membeku, Cerminan semua tingkah dan laku, Menjadi gelap kau warnai kalbu itu, Setiap saat titisan doa berlaku. Dalam harap suara lirih menyeru, Penyesalan serta pengakuan diri,  Dari semua keji yang telah berlalu. Dan terdengar ampunan jawaban-Mu, Tetaplah sama setiap waktu, Yaa Ibadi, "Janganlah kau putus asa dari rahmat-Ku" Sungguh tidakkah kau malu pada dirimu itu?. ------------------------ 🖊️@aljalury96

Cahaya Pagi

Gambar
Kurasa ia menghampiri diriku, Menanyakan isi di lemari hatiku, Pada pandangan tajam kehidupan, Cahaya pagi yang menyimpan harapan. Kuyakin ia membersamai asaku, Tuk merubah kesalahan di masa lalu, Dan meyakinkan kasih sayang Rabbku, Cahaya pagi yang membawa cita baru. Kukira ia kan membakar ruas kulitku, Ternyata sebatas memberi kehangatan, Disetiap butiran cahayanya yg jatuh padaku, Cahaya pagi yg memberikan arti kelembutan. Ingin ku sampaikan setitik tinta perjuangan, Bersama cahaya yg menembus lorong waktu. Kusimpan detak cintaku pada yg tertulis, Yang seharusnya terjaga dari segala nista, Tuk menikmati janji pasti di lembaran Takdir,  Saat Cahaya pagi menyapa. Aku bersamanya... --------------------------- 🖊️✨ @aljalury96

Allah Baik, Allah Maha Baik

Gambar
Aku dan suamiku menikah melalui ta’aruf. Kami hanya bertemu tiga kali sebelum akad, itupun dengan sangat menjaga batasan. Selama masa ta’aruf, kami tidak saling berinteraksi langsung. Tidak ada chatting, tidak ada telepon, semuanya melalui perantara. Bahkan, kami baru bertukar nomor telepon setelah akad, di atas pelaminan. Itu adalah salah satu doa yang telah Allah kabulkan. Sejak sebelum menikah, aku benar-benar menjaga diriku. Di dalam handphone-ku, tidak ada satu pun nomor laki-laki, hanya akhwat yang ku kenal. Setelah setiap shalat, aku selalu memanjatkan doa: meminta suami yang menjaga dan melindungiku, sejak awal hingga akhir perjalanan kami. Dan Allah menjawab doaku dengan cara yang begitu indah. Kini, kami masih menikmati kebersamaan, merasakan manisnya kasih sayang dalam bingkai pernikahan. Aku yakin, setiap takdir yang Allah tetapkan adalah yang terbaik. Jika saat ini kami belum dikaruniai anak, aku percaya Allah tengah mempersiapkan waktu yang paling tepat. Seperti Dia telah...

Menata Hati Agar Bahagia Bisa Diraih

Gambar
Hati sering mengalami berbagai gelombang perasaan. Kadang merasa damai, tetapi ada kalanya kebimbangan datang. Ujian hidup yang bertubi-tubi bisa menimbulkan kemarahan dan perasaan tidak adil, sehingga mengganggu ketenangan jiwa. Allah berfirman dalam Al-Qur'an: "Dan bersabarlah, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS. Al-Anfal: 46) Iri juga sering muncul saat melihat orang lain berhasil dalam usahanya. Mereka memiliki kehidupan yang lebih baik, sementara diri sendiri masih berjuang. Perasaan iri ini dapat menyulut bara di dalam hati, yang jika dibiarkan, bisa berkembang menjadi dengki. Hal ini dapat membuat hati semakin letih dan jauh dari ketenangan. Allah mengingatkan dalam firman-Nya: "Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain." (QS. An-Nisa: 32) Selain itu, prasangka buruk atau su’udzon juga sering muncul tanpa disadari. Keberhasilan orang lain kadang dianggap bukan...

Selalu ada Cahaya Selama Tak Menyerah.

Gambar
Malam itu, aku menatap langit yang dipenuhi bintang. Angin sepoi-sepoi menyentuh wajahku, membawa ketenangan di tengah kegelisahan yang menguasai hati. Aku merenungi perjalanan hidup yang penuh dengan jatuh bangun. Keinginan untuk menjadi lebih baik selalu ada, namun langkahku sering terhenti oleh kesalahan yang terus berulang. Saat itu, aku merasa begitu jauh dari Tuhan. Seolah ada sekat tak kasatmata yang menghalangi diriku dari rahmat-Nya. Namun, di antara semua kegelapan itu, secercah harapan masih ada. Aku tahu, selama aku mau melangkah, ada jalan yang bisa kutempuh untuk kembali kepada-Nya. Aku memutuskan untuk mencari ketenangan dalam doa. Dalam sujud yang panjang, aku memohon, "Ya Rabb, bimbinglah aku. Jangan biarkan aku tersesat terlalu jauh. Dekaplah aku dalam kasih-Mu." Hari demi hari, aku mulai mencoba merubah diri. Aku memperbaiki kebiasaanku, mengganti waktu yang terbuang dengan hal-hal yang lebih bermanfaat. Godaan masih ada, namun kali ini aku lebih kuat. Aku ...

Langkah Baru Menunju Cahaya

Gambar
Langkah demi langkah, waktu terus berlalu tanpa pernah menunggu. Setiap jejak yang tertinggal adalah potongan kecil dari perjalanan hidup, sebuah cerita yang terukir dalam sejarah diri. Aku berjalan, kadang berlari, kadang terseok, namun tak pernah berhenti. Meski kelelahan sering menghampiri, semangat dalam hati selalu membara, mengingatkan bahwa setiap akhir hanyalah awal bagi perjalanan yang baru. Hari itu, aku berdiri di depan cermin, menatap sosok yang telah melewati berbagai rintangan. Aku mengingat semua liku-liku yang telah kulewati, bagaimana aku pernah meragukan diri sendiri, bagaimana dunia seakan bersekongkol untuk menjatuhkanku. Namun, satu hal yang selalu kupegang teguh: aku harus terus melangkah. Dengan tekad yang semakin kuat, aku mengusir semua bayangan keraguan. Aku sadar, meski mimpi terasa jauh, ia bukanlah sesuatu yang mustahil. Setiap langkah kecil yang kuambil adalah bagian dari perjalanan menuju impian itu. Aku memutuskan untuk tidak takut lagi terhadap badai ya...

Kembali dalam Kasih Sayang-Nya

Gambar
Dalam kelelahan yang menyelimuti tubuh dan jiwa, Aisyah duduk termenung di sudut kamarnya. Sunyi menemani, hanya suara detak jam dinding yang terdengar samar. Batinya berperang sendiri, terjebak dalam zona nyaman yang menggenggam hatinya terlalu erat. Dia merasa seperti terkurung dalam ilusi, terperangkap dalam rutinitas yang menjauhkannya dari kebaikan. Sudah lama ia merasa rapuh. Waktu terus berlalu, menyeretnya semakin jauh dari cahaya yang pernah menerangi jalannya. Nafsu duniawi membelenggu, kesedihan menyesakkan. Di tengah gemuruh perasaan yang berkecamuk, ia menyadari bahwa hatinya mulai kehilangan arah. Perlahan-lahan, keyakinannya terkikis oleh kefuturan yang datang tanpa permisi. "Ya Rabb, aku ingin kembali," lirihnya dalam hati. Aisyah menghela napas panjang. Ia merindukan kedamaian yang pernah mengisi relung hatinya. Jalan ketaatan yang dahulu begitu lekat, kini terasa begitu jauh. Meski bayangan futur terus menghantuinya, ia bertekad untuk bangkit, walaupun langk...

Hikmah di Balik Kemudahan

Gambar
Pagi itu, Rani duduk di teras rumahnya sambil menyeruput teh hangat. Angin sepoi-sepoi mengelus wajahnya, menenangkan hatinya yang akhir-akhir ini dipenuhi berbagai perenungan. Ia teringat perjalanan hidupnya, bagaimana Allah telah memudahkan banyak hal baginya. Rani adalah seorang wanita yang kini mantap berhijrah. Dahulu, ia sangat menyukai gemerlap dunia, mengikuti tren, dan tak begitu peduli pada agama. Namun, suatu hari Allah memberinya hidayah. Ia mulai menutup aurat dengan sempurna, meninggalkan musik yang dulu selalu menemaninya, dan berusaha menjalankan hidup sesuai ajaran Islam. Segalanya terasa lebih ringan baginya, seolah semua jalan menuju kebaikan terbuka tanpa hambatan. Namun, ada satu hal yang kini ia sadari. Di sekelilingnya, banyak orang yang masih berada di posisi yang pernah ia tempati dulu. Ada teman-teman yang masih enggan berhijab, ada saudara-saudaranya yang masih sibuk mengejar dunia, dan ada juga mereka yang belum mampu meninggalkan kebiasaan buruk. Dulu, ia s...

Menanti Sang Buah Hati

Gambar
Sore itu, Mentari duduk di teras rumahnya, menatap langit yang perlahan berubah jingga. Hembusan angin sore mengelus lembut wajahnya yang tampak letih. Sudah berulang kali ia mendengar kata-kata yang menusuk hatinya, pertanyaan yang sama dari orang-orang sekitar, "Kapan punya anak?" atau lebih menyakitkan lagi, "Hidup kalian pasti sepi tanpa buah hati." Mentari menghela napas panjang. Di sampingnya, suaminya, Raka, menggenggam tangannya erat, seolah ingin menyalurkan keteguhan dan cinta yang tak terbatas. Mereka telah bertahun-tahun menikah, namun hingga kini belum dikaruniai seorang anak. Bukan karena mereka tidak menginginkannya, tetapi takdir belum mempercayakan mereka anugerah itu. "Apa kita salah?" bisik Mentari lirih. Raka tersenyum, "Tidak ada yang salah. Kita hanya sedang menjalani cerita yang berbeda dari mereka." Mentari terdiam. Ia teringat kisah Sayyidah Aisyah, istri Rasulullah yang mulia, yang tidak pernah melahirkan, namun kemuliaa...